Dedi mulyadi dan bayang bayang populisme jokowi

Dedi mulyadi dan bayang bayang populisme jokowi

Oleh Dani • 12 Jun 2025


Dedi Mulyadi dan Bayang Bayang Populisme Jokowi

Kemunculan Dedi Mulyadi di panggung politik nasional mengingatkan kita pada sosok Joko Widodo di awal kariernya, berpenampilan sederhana, gemar blusukan, dan menunjukkan kedekatan nyata dengan masyarakat. Gaya kepemimpinan seperti ini kembali menarik simpati dan perhatian masyarakat luas.

Namun, di balik kemiripan gaya kepemimpinan tersebut, muncul pertanyaan mendasar : *apakah kehadiran Dedi Mulyadi merupakan wujud dari regenerasi politik yang sehat, atau sekadar pengulangan simbolik dari narasi yang sama?*

Kekhawatiran ini tidak lepas dari pengalaman masyarakat yang pernah menaruh harapan besar pada kesederhanaan dan kedekatan simbolik. Menjadi pemimpin tidak cukup hanya bermodal citra atau pendekatan personal, yang lebih dibutuhkan adalah arah kebijakan yang jelas, keberanian menyentuh akar persoalan bangsa, dan keberpihakan nyata kepada kepentingan rakyat banyak.

Populisme bukanlah sesuatu yang keliru. Ia dapat menjadi jembatan penting antara pemimpin dan rakyat. Namun, jika populisme hanya dijadikan alat pencitraan tanpa substansi, maka masyarakat berisiko menjadi penonton dalam drama politik yang berulang.

Ini menjadi tantangan besar bagi publik, apakah akan terus memilih berdasarkan tampilan luar dan narasi sederhana, atau mulai memberi penekanan pada gagasan, integritas, dan keberanian menyelesaikan persoalan bangsa secara nyata?